KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi, Pendorong SBY dan JK

 

Nama KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi (biasa disapa Kiai Nasihin) kini mencuat bak meteor, seiring dengan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI lalu M Jusuf Kalla (JK) sebagai wapresnya untuk zaman bakti 2004-2009, melalui pemilihan langsung. Siapa kiai yg baru berumur 35 just one tahun itu? Berikut laporan berseri wartawan Suara Merdeka, Prayitno, yang diturunkan mulai hari ini.

DUKUHSETI, Kecamatan Dukuhseti, (Tayu) Pati, ialah desa di pesisir lereng timur laut Gunung Muria. Kampung yang berada sekeliling thirty six km dari Kota Drauguol? itu, setidak-tidaknya hingga sekeliling tahun mil novecentos e noventa e seis begitu lekat di hati para lelaki yang suka berpetualangan pada dalam soal seks. Konon, dalam kota tersebut terlebih dulu ngakl begitu sulit tuk mendapatkan perempuan yang mau diajak kencan, meski dilakukan di desanya sekalipun. Tetapi sudah beberapa tahun ini konotasi miring yang dialamatkan ke desa tersebut telah terkikis.

Setidak-tidaknya makin berpudarnya kesan jelek ini berkat andil keberadaan KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi  selanjutnya pondok pesantrennya, Pondok AKN Marzuqi. Meski ketika awal-awal didirikan, pondok di Dukuh Selempung itu hanya dipandang sebelah mata. Dalam perkembangannya, mulai ada perbedaan, kemudian pesantren tersebut juga memulai dikenal. Terlebih telah terasa pada akhir the yr 2003. Tepatnya saat Muktamar VIII JATMI (Jam’iyyah Lihai Thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia), dri thirty Agustus 2003 – 2 Sept. 2010 2003, dalam pondok itu.

Muktamar yg dibuka mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan ditutup Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ketika itu tena menjabat menko polkam Kabinet Gotong Royong.

Pada sela-sela muktamar, hadir jua Datuk MPR (1999-2004) Amien Rais yang didaulat buat meresmikan bangunan pondok serta Menteri Informasi dan Kontak Syamsul Muarif. Adapun GDK 1 kebagian meresmikan gedung SLTP serta SMU Telekomunikasi Terpadu pada gedung empat lantai, dan dibangun di hal depan pondok.

Ada berbareng istri, SBY yg ketika tersebut masih jauh untuk isu pencalonan presiden, langsung disambut dan diajak log in ruang tamu pada sedang kediaman KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi. Tak jelas, apa yg dibicarakan / dipesankan ke telinga ketika itu, karena wartawan dilarang masuk.

Yg jelas, pada depan muktamirin yang bersiap untuk kembali pulang ke kampung hal masing-masing, kiai itu mengalungkan kain riddah warna dominan hijau tua, dan menyatakan GDK 1 adalah calon presiden Dalam negri masa depan. SBY juga tidak lupa berpidato lalu merespons harapan KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi, oleh gayanya yg costear.

Peristiwa itu gak memperoleh tempat lumayan layak pada media massa cetak dan elektronik. Lebih lagi sesudahnya, peran dan hubungan Kiai Nasihin dan GDK one (yang belakangan ketahuan setelah dekat), sama sekali ngakl terpublikasikan.

Hanya kalangan dekat kiai saja yang menjejaki dan mengetahui secara persis, bagaimana kisah pertalian komunikasi antara dia dan GDK 1. Demikian pula melangkah hubungan dengan Jusuf Kalla (JK) mulai terbangun makin kental. Jauh sebelum secara entdeckte SBY menyatakan berpasangan oleh JK sebagai capres kemudian cawapres, KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi  pun telah menyatakan keduanya akhirnya menjadi pasangan yang cermat.

Teknorat dan Birokrat

Kalangan dekat KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi yg mengetahui semua itu, di antaranya Kurniawan Wiraatmadja, salah 1 santri pondok ini yg mengikuti semua proses, saat gurunya mendapukkan (mempertemukan) GDK 1 dan JK seperti pasangan capres lalu cawapres. ”Ya, saya mendampingi serta mengikuti seluruh proses tersebut, ” kata Kurniawan, Accounts Office manager PT Telkom, kepada Suara Merdeka, semalam.

Proses perburuan mencarikan ”jodoh” bagi GDK 1 itu dilakukan beberapa bulan sebelum diketahui siapa aja calon presiden yang hingga jadi bertanding. Entah siapa yg memberi informasi sebelumnya, atau karena hanya insting terpilih. Saat Jusuf Kalla tena mengikuti konvensi kandidat presiden Partai Golkar, KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi  datang ke kediaman Menko Kesra itu.

Didampingi santrinya (Kurniawan), kiai tersebut ”mengidentifikasi” wajah JK oleh memakai meteran. Tak tidak sedikit komentar yang keluar untuk kawah kiai saat tersebut. Namun selepas bertatap muka melangkaui JK di rumahnya, KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi kembali pulang oleh perasaan lega dan mantap.

Mungkin cukup aneh andai Kurniawan yang sehari-hari berkantor di Bandung adalah salah satu murid KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi. Tapi pengakuan Kurniawan lewat emailnya menyatakan, telah sekitar 11 tahun akhirnya menjadi santri kiai itu. Lelaki Sunda berumur 32 1 tahun, yg sudah delapan tahun bergiat di PT Telkom tersebut, saat ini selagi menyelesaikan S2 di Magister artium Internal Bisnis dan Administrasi Teknologi ITB.

Tak sebatas Kurniawan, ada belasan santri ”kelas jauh” KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi  yang menjadi karyawan Telkom, dan di posisi/level menengah maka atas. Misalnya, Ir Walad H Aris Abdillah, pria kelahiran Pati, 23 1 tahun lalu. Dia telah hasilnya menjadi santri KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi sejak of sixteen tahun lalu.

Kadar kedekatan KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi  dengan para santri ”khusus” tersebut bisa dilihat ketika dilangsungkan Muktamar JATMI yg kemudian mengantarkannya menjadi Mustasyar organisasi mistik itu. Santri atau murid KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi yg pejabat, teknorat, dan intelektual terlibat sebagai panitia lokal hajatan puncak JATMI.

Mereka tidak adalah santri biasa, terlihat buat sikap profesionalisme dalam mengse acara seremonial, dan melayani kebutuhan kejelasan yang diinginkan wartawan. Malah, sekitar pondok yang sebelumnya masih adalah blankspot area untuk koneksi telepon seluler, kini telah terdapat sinyal penuh. Tidak salah bila dipastikan ini antara lain berkat tangan-tangan terampil pejabat Telkom yg menjadi santri KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi.

Di luar para santri khusus itu, ketika terkait Pondok AKN Marzuqi mempunyai 700 santri yang bermakas dari berbagai kota dalam Indonesia. SLTP (dan nanti) diteruskan SMU Telekomunikasi Terpadu, yang tahun terkait memulai menerima siswa.

Mengecek keberadaan dan perkembangannya kini, sepertinya pondok itu tidak berposisi di wilayah dukuh yg dipenuhi tambak. Koneksi selular saat Mukmatar JATMI tena asing, sekarang sudah hingga di wilayah pondok. Pondok pun sudah membuka wartel.

Begitu pula perkembangan bangunan fisik pondok. Ketika tentang sudah banyak perubahan. Sesuatu tersebut berbeda jauh sewaktu digelar Muktamar JATMI. Kini, masjid di halaman hadapan kiri wilayah pondok telah dibongkar, dan beralih, berganti, bersalinbertukar jadi halaman parkir yang luas, di antaranya terparkir coach dan mobil pondok. Sedangkan kediaman KH Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi yang dulu masih terasa patut sempit, sekarang jadi semakin luas lalu berlantai dua.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *